Bantahan Terhadap Firanda yg Menuduh Abuya Al Maliki Syirik

54

Tanggapan Terhadap Firanda yg Menuduh Abuya Al Maliki Syirik

1. Kita tidak perlu emosi, kalau mereka memakai ilmu ya kita juga memakai ilmu. Bahkan kalau bisa ilmu plus kesantunan. Idfa’ billati hiya ahsan, balaslah dengan yg lebih baik.

2. Saya hanya mau fokus pada ucapan akhinal karim Firanda yg terkait kritikannya terhadap Kakek guru Kami Abuya Prof. DR. As Sayyid Muhammad Alwy Al Maliky Al Hasany. Sengaja saya sebut lengkap, karena Firanda keliru menyebut Nama Beliau. Dan juga keliru dalam menyebut nama Kitab Beliau, padahal saya lihat Firanda sambil pegang kitab. Semoga bukan kitab Abuya, sehingga tidak dianggap tidak bisa bahasa Arab.

Adapun pernyataan Firanda terkait Abuya adalah ;

A. “Fal Mutasharrifu fil Kaun Huwalloh wa la yamliku ahadun syaian illa idza mallakahullohu dzalika wa adzina lahu bi tasharrufihi. ”

“Yang mengatur alam semesta adalah Alloh semata, dan tidak bisa mengaturnya kecuali orang yg telah diberi hak untuk mengaturnya oleh Alloh, hak otonomi untuk mengatur alam semesta. ”

Diantara yg diberi hak otonomi itu adalah Nabi Muhammada Saw. Itu terjemahan Firanda terhadap tulisan Abuya. Selanjutnya Firanda menterjemahkan tulisan Abuya dengan kata-kata ;

B. Bahwa Nabi bisa mengatur perkara ummat serta mengetahui kondisi ummatnya, meski Nabi telah tiada. Ini Kesyirikan!!

3. Mari kita bahas dua hal tersebut.

A. Tentang Alloh memberi izin kepada seseorang atau malaikat utk mengatur alam semesta. Apakah salah pemahaman? Bukankah tetap pemilik kekuasaan adalah Alloh, di kitab Abuya itu ada kalimat ‘mallaka’ dan ‘adzina’, yg saya lebih senang dengan arti ‘Memberikan izin dan memberikan kekuasaan’ bukan seperti terjemahan Firanda yg mengartikan dengan ‘hak otonomi’.

Sebab dengan terjemahan itu, akan memberi image ada dua kekuasaan yg bersanding. Inilah lebay-nya Firanda dalam memahami kita Abuya. Itu pemahaman yg berdasarkan adanya tidak kesenangan terhadap Abuya sejak awal.

Bukankah Alloh juga memberikan kekuasaan (mallaka) kepada siapapun yg dikehendakiNya. Simak QS. Ali Imron 26-27

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكِ ال�’مُل�’كِ تُؤ�’تِي ال�’مُل�’كَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ ال�’مُل�’كَ مِمَّن تَشَآءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَآءُ بِيَدِكَ ال�’خَي�’رُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَي�’ءٍ قَدِيرُُ {26} تُولِجُ الَّي�’لَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي الَّي�’لِ وَتُخ�’رِجُ ال�’حَيَّ مِنَ ال�’مَيِّتِ وَتُخ�’رِجُ ال�’مَيِّتَ مِنَ ال�’حَيِّ وَتَر�’زُقُ مَن تَشَآءُ بِغَي�’رِ حِسَابٍ {27}

“Katakanlah, ‘Wahai Tuhan Yg mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yg Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yg Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yg Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yg Engkau kehendaki, Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang, dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yg hidup dari yg mati, dan Engkau keluarkan yg mati dari yg hidup. Dan Engkau beri rizki siapa yg Engkau kehendaki tanpa hisab (batas). ” (Ali Imran : 26-27).

Jadi, Bukankah ayat itu berisfat umum. Bukankah para penguasa di muka bumi ini juga memuliki kekuasaan utk mengatur wilayahnya. Bukankah Raja Saudi sebagai Al Malik juga mempunyai kekuatan utk mengatur kerajaannya seenaknya dia. Bahkan setelah matinya juga masih mempunyai kekuasaan, yaitu wasiat bahwa kerajaan tersebut selama masih ada anak-anaknya maka tidak boleh dilimpahkan kepada cucunya?

Intinya. Janganlah terlalu lebay dalam menterjemahkan maksud kitab Abuya tersebut .

B. Nabi Saw. mengetahui kondisi ummatnya sekalipun Beliau tiada, adalah faham Syirik? Ini salah besar. Firanda belum khatam (selesai) ngaji tafsir. Coba simak QS At Taubah Ayat 105 ;

وَقُلِ اع�’مَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُم�’ وَرَسُولُهُ وَال�’مُؤ�’مِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ ال�’غَي�’بِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم�’ بِمَا كُن�’تُم�’ تَع�’مَلُونَ (105) }

Dan katakanlah, “Bekerjalah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya Serta orang orang mukmin akan melihat pekerjaan kalian itu dan kalian akan dikembalikan kepada (Allah) Yg Mengetahui akan yg gaib dan yg nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kalian apa yg telah kalian kerjakan. ”

Ibn Katsir, memberikan komentar terkait ayat tersebut ;

“Telah disebutkan bahwa amal orang-orang yg masih hidup di­tampilkan kepada kaum kerabat dan kabilahnya yg telah mati di alam Barzakh, seperti apa yg diriwayatkan oleh Abu Daud At-Tayalisi, bahwa telah menceritakan kepada kami As-Silt ibnu Dinar, dari Al-Hasan, dari Jabir ibnu Abdullah yg mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda :

“إن أَع�’مَالَكُم�’ تُع�’رَضُ عَلَى أَق�’رِبَائِكُم�’ وَعَشَائِرِكُم�’ فِي قُبُورِهِم�’، فَإِن�’ كَانَ خَي�’رًا اس�’تَب�’شَرُوا بِهِ، وَإِن�’ كَانَ غَي�’رَ ذَلِكَ قَالُوا : “اللَّهُمَّ، أَل�’هِم�’هُم�’ أَن�’ يَع�’مَلُوا بِطَاعَتِكَ”.

Sesungguhnya amal-amal kalian ditampilkan kepada kaum kerabat dan famili kalian di dalam kubur mereka. Jika amal perbuatan kalian itu baik, berikutmaka mereka merasa gembira dengannya. Dan jika amal perbuatan kalian itu sebaliknya, maka mereka berdoa, “Ya Allah, berilah mereka ilham (kekuatan) utk mengamalkan amalan taat kepada-Mu. ”

Imam Ahmad mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, dari Sufyan, dari orang yg telah mendengarnya dari Anas, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda :

“إِنَّ أَع�’مَالَكُم�’ تُع�’رَضُ عَلَى أَقَارِبِكُم�’ وَعَشَائِرِكُم�’ مِنَ ال�’أَم�’وَاتِ، فَإِن�’ كَانَ خَي�’رًا اس�’تَب�’شَرُوا بِهِ، وَإِن�’ كَانَ غَي�’رَ ذَلِكَ قَالُوا : اللَّهُمَّ، لَا تُمِت�’هُم�’ حَتَّى تَه�’دِيَهُم�’ كَمَا هَدَي�’تَنَا”

Sesungguhnya amal-amal kalian ditampilkan kepada kaum kerabat dan famili kalian yg telah mati. Jika hal tersebut baik maka mereka bergembira karenanya ; dan jika hal tersebut sebaliknya, maka mereka berdoa, “Ya Allah, janganlah Engkau matikan mereka sebelum Engkau beri mereka hidayah, sebagaimana Engkau telah memberi kami hidayah. ”

Jadi, kalau manusia biasa saja bisa seperti itu apalagi Nabi Muhammad Saw. Dalam kitab As-Sunan disebutkan,

أَك�’ثِرُوا مِنَ الصَّلاَةِ عَلَى يَو�’مَ ال�’جُمُعَةِ، فَاِنَّ صَلاَتَكُم�’ مَع�’رُوضَة عَليَّ، فَقالوا : يَا رَسُو�’لَ اللهِ! كَي�’فَ تُع�’رَضُ صَلاَتُنَا عَلَي�’كَ وَقَد�’ أَرِم�’تَ؟ قَالَ : إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَى الأَر�’ضِ أن�’ تَأك�’لَ لَحُو�’م�’ الأَن�’بِيَاءِ.

‘Perbanyaklah bershalawat kepada-ku para hari Jum’at dan malam Jum’at, sesungguhnya shalawat kalian diperlihatkan kepadaku’. Mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana shalawat kami di perlihatkan kepadamu, sedangkan engkau telah tiada? ’. Rasulullah SAW menjawab, ‘Sesungguhnya Allah SWT mengharamkan bumi memakan daging para Nabi”.

Dalam kitab As-Sunan disebutkan, Rasulullah Saw. bersabda,

اِنَّ اللهَ وَكَلَ بِقَب�’رِي مَلاَئِكَة يُبَلِّغُو�’نِـي�’ عَن�’ أَمَّتِي�’ السَّلاَمَ

‘Sesungguhnya Allah Swt menugaskan malaikat-malaikat di makamku utk menyampaikan salam kepadaku dari umatku’. ”

Dan masih banyak lagi hadis-hadis yg semuanya menunjukan bahwa Nabi Muhammad Saw. bisa mengetahui kondisi Ummatnya.

Jadi, saya berharap Firanda itu belajar lagi semua kitab hadis dan tafsir dengan tidak dilandasi ta’ashub pada ajaran Wahabi. Serta bersikaplah tawadlu’, yaitu orang yg tidak hanya Alim tapi dengan kealimannya dapat menghargai pendapat Ulama-ulama. Wallohu Alam

(Mohon maaf kepada para Guru yg mempunyai sanad ilmu langsung ke Abuya, saya telah lancang mendahului antum. Ini semua karena banyaknya pertanyaan ke saya terkait Firanda. Mohon bimbingan antum semua.)